Di Kabupaten Banjar, seperti di banyak kabupaten lain di Kalimantan Selatan, toko-toko kecil mulai punya akun Shopee. Produk kerajinan, kuliner, dan hasil pertanian lokal mulai difoto dan diunggah ke TikTok. Bahkan warung yang dulu hanya mengandalkan pelanggan tetap mulai belajar jualan lewat WhatsApp Business.
Itu perubahan nyata. Tapi ada yang tertinggal dari perubahan itu: orang yang benar-benar tahu cara mengelolanya dengan efektif.
Yang Terjadi di Lapangan
Riset tentang transformasi digital UMKM di Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mendokumentasikan pola yang berulang. Sebagian besar pelaku usaha masuk ke dunia digital lewat media sosial seperti Facebook dan Instagram, lalu mulai bergeser ke marketplace ketika ada traksi. Tapi di situ banyak yang terhenti.
Bukan karena tidak ada platform. Karena tidak ada orang yang paham cara memaksimalkan platform itu. Cara menulis deskripsi produk yang diindeks oleh algoritma marketplace. Cara membuat video pendek yang ditonton sampai habis. Cara membaca angka performa dan mengubahnya menjadi keputusan yang konkret.
Ini bukan masalah unik Kalimantan Selatan. Secara nasional, laporan Google-Temasek-Bain e-Conomy SEA 2025 mencatat sekitar 30 juta UMKM Indonesia sudah masuk ke ekosistem digital. Tapi 44% dari mereka belum memahami cara menggunakan iklan digital secara efektif. Teknologinya sudah tersedia. Orang yang bisa mengelolanya yang belum cukup.
Mengapa Ini Penting
UMKM menyumbang sekitar 60% terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja di Indonesia. Di Kalimantan, tren pertumbuhan UMKM juga sedang bergerak ke arah yang positif, didorong oleh digitalisasi dan pergeseran konsumen ke pembelian online.
Artinya permintaan terhadap orang yang bisa membantu bisnis kecil hadir secara digital terus bertumbuh. Dan permintaan itu tidak hanya ada di kota besar.
Penelitian yang menganalisis UMKM di Kalimantan Selatan menegaskan sesuatu yang mungkin sudah banyak orang rasakan tapi belum terlalu dipikirkan: kemampuan digital dan strategi pemasaran adalah dua faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan usaha, bahkan lebih dari inovasi produk itu sendiri. Produk yang bagus, tanpa orang yang bisa memasarkannya, sering tidak ke mana-mana.
Keterampilan yang Paling Dicari
Dari pola kebutuhan yang terlihat di lapangan, ada beberapa keterampilan yang paling sering dicari pelaku UMKM ketika membutuhkan bantuan digital.
Pengelolaan marketplace.
Mengunggah produk dengan foto dan deskripsi yang tepat, mengatur harga, merespons ulasan, memantau performa toko. Ini kelihatan sederhana, tapi banyak yang salah di bagian ini dan membuat toko mereka sulit ditemukan pembeli.
Pembuatan konten promosi.
Foto produk yang layak pakai, caption yang menarik, video pendek untuk TikTok atau Reels. Konten yang dibuat dengan baik bisa membuat produk lokal yang biasa saja terlihat bernilai lebih.
Copywriting untuk jualan.
Cara menulis kalimat penawaran, caption promo, hingga pesan WhatsApp yang mendorong orang untuk membeli. Skill ini tampak kecil, tapi dampaknya bisa terasa langsung.
Membaca data performa sederhana.
Menggunakan dashboard Shopee atau insight Instagram untuk memahami konten mana yang bekerja dan mana yang tidak, lalu menggunakannya untuk mengambil keputusan berikutnya.
Semua keterampilan itu bisa dipelajari. Dan itu persis yang diajarkan di Konsentrasi Bisnis Digital.
Peluang yang Dekat Secara Geografis
Biasanya, ketika seseorang lulus SMK dengan kemampuan bisnis digital, pikirannya langsung melompat jauh: kerja di startup Jakarta, bergabung dengan agensi digital di kota besar. Itu bukan pilihan yang salah.
Tapi ada satu hal yang sering tidak disadari: peluang di sekitar rumah juga tidak kecil.
UMKM lokal yang sedang tumbuh butuh orang yang bisa mengelola kehadiran digital mereka. Bisnis kuliner dan produk lokal yang punya produk bagus tapi tidak tahu cara memasarkan butuh bantuan yang sama. Bahkan lembaga dan organisasi di daerah mulai menyadari perlunya orang yang melek digital untuk mengelola komunikasi mereka ke publik.
Lulusan yang memilih bekerja di dekat daerah asalnya punya satu keunggulan yang tidak bisa dengan mudah dimiliki orang dari luar: mereka tahu konteks lokalnya. Mereka tahu produk apa yang relevan untuk komunitas tertentu, musim apa yang memengaruhi permintaan, dan cara berkomunikasi dengan pelanggan yang pola pikirnya berbeda dari konsumen kota besar.
Kalimantan dan Arahnya ke Depan
Kalimantan sedang dalam fase transisi ekonomi yang menarik. Pembangunan IKN di Kalimantan Timur mendorong pertumbuhan infrastruktur yang perlahan berdampak ke seluruh pulau. Kalimantan Selatan, dengan Banjarmasin sebagai pusat ekonominya, terus berkembang sebagai pasar yang relevan untuk bisnis ritel dan produk lokal.
Dalam konteks itu, kompetensi bisnis digital bukan lagi keterampilan yang hanya relevan di Jakarta. Ini keterampilan yang relevan di mana pun ada bisnis yang perlu menjangkau lebih banyak pelanggan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah lulusan SMK Bisnis Digital bisa bekerja di UMKM lokal?
Ya. Banyak UMKM lokal, terutama yang sudah mulai masuk ke marketplace atau media sosial, membutuhkan orang yang bisa mengelola kehadiran digital mereka secara konsisten. Posisi ini tidak selalu ada di papan lowongan besar, tapi kebutuhannya nyata dan terus bertambah.
Apakah bisa membuka jasa sendiri setelah lulus?
Bisa. Lulusan dengan portofolio yang kuat bisa memulai sebagai *freelancer* jasa pengelolaan media sosial, pembuatan konten, atau pengelolaan toko *online*. Banyak pelaku UMKM lebih memilih membayar per proyek daripada merekrut karyawan tetap, sehingga ada pasar yang cukup besar untuk model kerja ini.
Apakah harus tinggal di kota besar untuk berkarier di bidang ini?
Tidak harus. Sebagian besar pekerjaan di bidang digital marketing bisa dilakukan dari mana saja selama ada koneksi internet yang stabil. Ini membuat lulusan dari daerah seperti Kabupaten Banjar tetap punya akses ke klien atau perusahaan di kota besar, tanpa harus pindah.
Apa hubungannya dengan SMKIT Ushuluddin?
Program Keahlian Pemasaran, Konsentrasi Bisnis Digital di SMKIT Ushuluddin mempersiapkan siswa untuk mengisi kebutuhan yang digambarkan di artikel ini: mengelola marketplace, membuat konten promosi, memahami strategi pemasaran digital, dan membantu bisnis berkembang secara online. Berlokasi di Kabupaten Banjar, sekolah ini melatih lulusan yang bisa langsung relevan di ekosistem lokal maupun nasional.
Penutup
Ada jarak yang nyata antara jumlah UMKM yang sudah go digital dan jumlah orang yang benar-benar bisa mengelolanya dengan baik. Jarak itu adalah peluang, dan peluang itu tidak harus dikejar dari jauh.
Jika kamu atau putra-putri kamu tertarik membangun karier di bidang ini, informasi lengkap tentang program dan penerimaan siswa baru SMKIT Ushuluddin tersedia di halaman informasi SPMB kami. Kami juga terbuka untuk konsultasi langsung.